Nasihat dari Wanita Tuaku

Nenek atau Wanita Tuaku. Orang yang bisa mengajariku sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh orang lain. Tentunya beliau punya pengalaman yang lebih dibandingkan aku, kakak perempuanku, atau ibuku.

Setelah bercakap cukup lama di ruangan rumah sakit tempat aku dirawat, beliau berkata, "Pas kangen Akung, aku ngipi dikeloni Akung." Sejenak aku tersenyum kepadanya, tapi justru air mata yang keluar dari sudut-sudut mata beliau. Ya, kakekku telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Lalu hening. Air mataku menyusul air mata beliau, namun karena aku tak ingin beliau melihatku menangis, aku menutupi mukaku dengan ponsel yang daritadi aku genggam, bagian lainnya aku tutup dengan poniku yang panjang. Lalu perlahan aku menyeka kedua mataku sembunyi-sembunyi. Barangkali aktingku buruk, karena hal yang paling sulit aku sembunyikan adalah air mata.

Nenek mengajariku tentang pentingnya mengalah dalam kehidupan, apalagi dalam rumah tangga. Kata nenek, rumah tangga itu seperti gunung. Dilihat dari kejauhan sangat indah, menawan, tetapi jika kita mendekatinya atau ingin mendakinya, dia terlihat terjal dan penuh rintangan, jika ingin sampai ke puncaknya dan menikmati pemandangan dari atas, pastinya harus menaklukkan rintangan terlebih dahulu. Sama halnya dengan rumah tangga, jika ingin rumah tangga yang indah, saling menjaga perasaan adalah hal yang mutlak. Dari situlah beliau mengajarkanku arti mengalah. Mengalah bukan untuk kalah, lagipula rumah tangga bukalah suatu kompetisi. Mengalah hanyalah untuk menjaga perasaan, khususnya perasaan pasangan, tentunya dalam batas wajar.


Ini adalah nasihat dari Wanita Tuaku, bagaimana dengan kalian? 


Komentar

Posting Komentar

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar :D

Postingan populer dari blog ini

ENZIM | TANYA DAN JAWAB

Culinary Review: The Solchic Solo, Chicken Package Easy Wings

Contoh Resensi Antologi Cerpen (Buku Fiksi)