Expose?

Belajar dari mata kuliah Estetika yang saya dapat beberapa minggu ini, sebenarnya apakah estetik itu? Menurut materi yang telah saya pelajari Estetik adalah kondisi psikologis seseorang yang mengalami "rasa indah" ketika secara rasa dan indrawi menangkap sumber estetik (indah) dan termotivasi untuk menciptakan keindahan baru. Tapi Estetik tidak identik dengan indah atau cantik walaupun banyak orang mengatakan demikian, semua hal yang membuat kita merasakan keindahan dan menginspirasi kita untuk menciptakan keindahan yang baru, semua itu tergolong estetik.

Mengapa saya menyinggung masalah Estetik dalam artikel saya ini? Saya hanya ingin menulis sebagian kecil realitas yang terjadi di luar sana, tentang pengeksposan kehidupan atau kegiatan seseorang yang notabene sedang menjadi tren.

Dosen Estetika saya berkata, generasi sekarang adalah generasi simulacrum atau generasi simulasi. Menurut saya, penyataan dosen tersebut memang benar adanya, hidup kita dipenuhi sugesti-sugesti yang membuat kita seperti sedang melakukan simulasi saja, we don't live a life fully. Contohnya seperti makan di sebuah cafe mewah, makan di cafe mewah jaman sekarang bukanlah untuk sekedar makan, tetapi sudah menjadi gengsi. Aku makan di cafe, aku keren, begitulah kasarnya. Begitu juga dengan jalan-jalan di mal atau di manapun yang membuat kita bersugesti bahwa melakukan aktifitas-aktifitas itu membuat kita terlihat lebih di mata orang lain.

Generasi simulasi ini juga dipengaruhi oleh teknologi, bukannya menjadi semakin canggih dengan adanya teknologi baru tetapi semakin primitif. Mengapa demikian? Karena banyak dari kita sekarang bukannya memanfaatkan teknologi tetapi justru diperbudak oleh teknologi. Contohnya adalah teknologi smartphone yang identik dengan media sosial. Semua hal punya sisi baik dan buruknya sama halnya dengan media sosial, baiknya kita bisa menggunakannya untuk lebih leluasa berkomunikasi dengan orang lain tanpa pergi jauh-jauh untuk menemuinya secara langsung. Buruknya, media sosial menjadi sarana pengeksposan kehidupan yang sebenarnya hal tersebut tidak benar-benar diperlukan oleh kebanyakan orang.

Media seperti halnya Path, Instagram, Facebook, Twitter, dan Ask.fm sebenarnya tidak perlu digunakan secara berlebihan walaupun media sosial tersebut memfasilitasi kita untuk berperilaku demikian. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, orang-orang meng-update keberadaannya, meng-update kondisinya, potret wajah bertebaran di mana-mana, apakah hal tersebut membawa pengaruh baik bagi penggunanya sendiri selain mendapat "perhatian"? Apakah itu berpengaruh baik terhadap orang lain? Apakah manusia jaman sekarang sudah tidak peduli lagi dengan privasi? Kehidupan pribadinya, hartanya, wajahnya, kegiatannya mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur di eksposnya ke media.

Sekarang marak sekali akun-akun yang mengekspos hal yang seharusnya tidak diekspos berlebihan ke publik. Apa arti dari popularitas? Semua hanya akan membuat hidup kita semakin palsu, kita tidak hidup dengan pemikiran dan prinsip kita sendiri, melainkan hidup untuk menuruti keinginan orang lain, bahkan terjebak dalam dogma orang lain.

So let's live a life fully, we don't have to expose our life to be known by other, we don't have to be popular to be honored by other. We are we, we have our own way of life. Master your gadgets, don't be mastered by your gadgets.

Jadi intinya, mulailah untuk menginspirasi orang lain, berbagilah hal-hal yang mungkin bisa menginspirasi orang lain, bukan hanya untuk menunjukkan status sosial atau mengekspos sesuatu yang tidak memiliki manfaat khusus bagi diri sendiri maupun orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENZIM | TANYA DAN JAWAB

Culinary Review: The Solchic Solo, Chicken Package Easy Wings

Contoh Resensi Antologi Cerpen (Buku Fiksi)