Cerita di atas Kereta

Suatu waktu aku pergi ke luar kota dengan menggunakan kereta ekonomi, maklum aku hanya mahasiswa, untuk beli tiketnya saja aku harus menahan jajan dan menunda kebutuhan-kebutuhan yang tidak mendesak. Aku mendapatkan kursi 17 E gerbong 1, mungkin sedang apes, aku mendapatkan gerbong lawas. Kursinya sama sekali tidak nyaman untuk bersandar, entah mengapa kursi ini di desain seperti ini... 2 kursi di depanku diduduki oleh sebuah keluarga, satu ayah, satu nenek, dan satu anak kecil, di lihat dari penampilan mereka, mereka mungkin bukanlah orang yang berkecukupan. Ah, bicara apa aku ini? Sudah jelas sekali bahwa kereta ekonomi memang penuh dengan manusia-manusia dengan kehidupan keras.

Sudah hampir 2 jam di dalam kereta tapi anak kecil - mungkin umurnya masih belum genap 4 tahun - di depanku belum juga bisa diam, ia sangat hiperaktif sampai nenek dan ayahnya kewalahan, sehabis minum susu pun dia juga belum bisa tenang. Aku sampai kasihan pada ayahnya, terlihat sangat capek. Suatu kali ayah dan nenek anak kecil itu memesan makanan di dalam kereta api, mereka membeli fried chicken untuk sang anak, tiba saat sang ayah menanyakan berapa harga fried chicken itu,

"Berapa harganya, mas?" tanya sang Ayah.

"20.000 pak." Kata Mas Penjual dengan datar.

Lantas sang Ayah terlihat sedikit kaget, sang Nenek pun demikian, mugkin mereka sebelumnya belum pernah membeli makanan di dalam kereta atau bahkan mungkin mereka belum pernah naik kereta. Untunglah sang nenek mempunyai uang lebih, aku jadi ikut was-was apabila ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Apabila mereka tak punya uang pun, pastinya sang ayah malu jika mengembalikan makanan itu dengan alasan uangnya tidak cukup. Yang aku tidak habis pikir adalah, mengapa makanan di kereta kelas ekonomi bisa semahal ini. Bukankah seharusnya pengelola sudah memikirkan bahwa kereta dengan kelas ekonomi ini akan dinaiki oleh rakyat kelas ekonomi menengah kebawah, yang mungkin penghasilan mereka perharinya seharga dengan satu kotak kecil fried chicken yang mereka jual. Ya, walaupun kadang ada sebagian orang dari kalangan menengah ke atas yang turut menikmati kereta kelas ekonomi.

Aku cukup paham bahwa stok makanan di atas kereta juga terbatas, selain itu kereta belum tentu berhenti lama di stasiun, maka dari itu pasti makanan seharga 20.000 yang mereka jual itu terbeli. Entah itu memang dibeli dengan ikhlas atau terpaksa. Aku hanya berpikir, bagaimana jika suatu saat ada seseorang yang belum makan sejak pagi hanya untuk pulang ke keluarganya, dia juga menahan lapar di kereta karena tahu bahwa makanan di dalam kereta harganya selangit.. Betapa tersiksanya.

Memang aku tidak mengerti, sebesar apa  pajak yang dikenakan KAI untuk penjual/pengelola makanan di dalam kereta ini, sehingga harganya melambung tinggi. Uang 20.000 di luar kereta dan stasiun bisa untuk 5 kali makan. Untuk membeli fried chicken yang sama enaknya di popeye atau olive bisa dapat 3 porsi sekalian minumnya. Yang jelas aku sangat menyayangkan ini, aku tidak tega melihat orang-orang yang terpaksa menahan lapar, pun yang terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan makanan yang notabene jumlah dan rasanya juga tidak sesuai dengan harganya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENZIM | TANYA DAN JAWAB

Culinary Review: The Solchic Solo, Chicken Package Easy Wings

Contoh Resensi Antologi Cerpen (Buku Fiksi)