Pesanku untuk Aku yang Kelas Tiga

Tulisan ini sebenarnya sudah ada setahun yang lalu, mungkin aku menulisnya untuk aku yang sudah 18 tahun, yang sekarang sedang berusaha untuk keluar dari tempat yang pernah kumasuki! Masa laluku membuka mataku lagi, bahwa aku tak bisa bergantung pada satu hal - SNMPTN Undangan -.



27 Mei 2013

Hari ini pengumuman SNMPTN Undangan, untuk angkatan diatasku pastinya. Sore, aku baru pulang dari asrama. Jika ada yang bertanya mengapa aku tadi di asrama, aku sebenarnya mengerjakan tugas, walaupun akhirnya aku tertidur. Entah mengapa, hari ini terkesan sangat gelap. Mendung, gerimis sepanjang hari, dan hati yang sulit untuk tenang. Jika kebenaran ada di langit, bagaimana cara untuk menurunkannya? Apakah dengan hujan?


Pulang dengan wajah kusut, aku langsung bergegas mandi. Biar air menyingkirkan semua debu yang sedari pagi sudah menempel dibadanku ini, sekaligus mencuci semua pikiran buruk yang bersikeras ingin bersarang di otakku.


Sehabis mandi, aku sholat. Aku ingin tenang dalam kedamaian batin, pelukan Tuhan tiada duanya. Walaupun aku hambaNya yang tak jarang lalai, aku yakin Dia masih menyayangiku. Sehabis berdoa, aku diajak temanku untuk pergi ke minimarket terdekat. Membeli sesuatu. Waktu kubuka kamar, kebetulan Mbak Dita lewat. Tak banyak basa-basi aku menanyainya, “Gimana mbak?”.

       Mbak Dita langsung mengerti arah pembicaraanku. “Nggak keterima dek.” Dengan wajah yang kecewa. Aku tahu betul perasaan Mbak Dita. Dia yang sebenarnya sudah tenang, tak sengaja kuusik, air matanya mengalir di balik kacamatanya.

        “Udahlah mbak, kalau pintu ketutup, masih ada jendela.” Aku berusaha menenangkannya, begitu juga dengan Ratna. Mbak Vina dan Mbak Nidi juga tidak diterima lewat jalur SNMPTN Undangan. Sejurus langsung terpikirkan olehku, Mbak Dita yang notabene selalu mendapat peringkat paralel yang baik, tidak diterima SNMPTN Undangan. Bagaimana dengan nasibku besok?

Mungkin SNMPTN Undangan bukanlah segalanya. Tuhan selalu adil, bukan? Kita gagal karena kita bisa lebih dari itu. Karena mereka yang berhasil di awal takkan bisa seperti kita. Ini salah satu ujian, dan harusnya kita bisa melewati ini. Karena Tuhan menjamin kita bisa lolos ujian ini. Pernah nggak berpikir, mungkin orang-orang yang berhasil di awal itu takkan sanggup menerima ujian yang Tuhan berikan ke kita. Tetap semangat ya, kakak-kakakku, aku percaya bahwa kalian itu hebat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENZIM | TANYA DAN JAWAB

Culinary Review: The Solchic Solo, Chicken Package Easy Wings

Contoh Resensi Antologi Cerpen (Buku Fiksi)