Masih Berpikir Untuk Menyontek dan Memberi Contekan?

Hey readers, kali ini aku mau ngebahas tentang kasak-kusuk dunia percontekkan. Nyontek emang bukan sesuatu yang kontroversial dan fenomenal lagi di Indonesia. Di jaman sekarang, nyontek udah menjadi budaya yang sepertinya udah kayak lingkaran setan alias bandel dan susah dibasmi, karena sadar atau nggak sadar nyontek itu kayak kriminalitas - bukan hanya karena niat pelaku, tapi juga karena ada kesempatan -____-

Apa sih manfaat nyontek?

Menurut banyak sumber, manfaat utama nyontek adalah "biar nilai bagus". Alasan diterima, well memang masalah nilai kerap jadi alasan kenapa anak-anak negeri lebih suka nyontek daripada ngerjain sendiri. Kita emang dituntut untuk dapet nilai bagus dipelajaran-pelajaran sekolah, demi apapun -___- atau, menurutku pribadi, nilai bagus kebanyakan cuma buat "gengsi" entah itu gengsi sekolah atau gengsi si anak.

Why can't be more honest to yourself? Padahal menyadari ketidakmampuan kita adalah langkah pertama buat move on, kekurangan kita nggak usah ditutup-tutupi dengan menyontek. 

Apasih kerugian menyontek?

Banyak! Baiklah, kayaknya seru nih ngebahas kerugian menyontek. Nih, beberapa hari yang lalu aku dan temenku sempat ngebahas ini :

1. Capeknya tiga kali lipat daripada belajar biasa
Buat kamu yang suka nyontek, apa kamu nggak sadar bahwa nyontek itu 3 kali lebih capek daripada belajar biasa? Apalagi kamu yang belajar di LBB -__- 

Jadi gini, waktu di sekolah, kamu udah belajar di kelas sekitar 7 jam - otakmu udah payah belajar di sekolahan, pulang sekolah kamu les di LBB sekitar 2 jam - otakmu semakin capek, pulang dari LBB  kalo besok ada ulangan pasti seenggaknya kamu belajar lagi - otakmu udah panas. Teruuuuss, besoknya waktu ulangan kamu NYONTEK. Terus gunanya kamu belajar kemarin apa? Kalo ulangan nyontek sih kemarin malemnya nggak usah belajar juga bisa, nggak usah mahal-mahal les di LBB juga bisa. Kenapa begitu repotnya?


Masih berpikir untuk menyontek dan memberi contekan?


2. Ngebikin otak makin tumpul
Walaupun sebenernya otak kita nggak ada lancip-lancipnya, tapi seenggaknya otak kita tuh memang harus aktif digunakan untuk berpikir. Menurut sumber yang pernah aku baca, otak kita itu beda dengan mesin - kalo mesin, semakin digunakan semakin rusak, tapi kalo otak kita, semakin digunakan akan semakin baik -  Jadi, belajar dong ngerjain ulangan sendiri, sama kayak kita belajar jadi problem solver. Dengan begitu, di ulangan selanjutnya kita akan lebih terlatih untuk ngerjain itu dengan metode kita sendiri.

Masih berpikir untuk menyontek dan memberi contekan?


3. Dosa
Ini sih nggak usah dibilang, nyontek dan ngasih contekan itu udah pasti dosa. Tau nggak kenapa? Baiklah, aku jelasin.. Setiap manusia mempunyai akal, dan akal itu merupakan anugerah yang besar dari Allah SWT. Allah nggak akan menciptakan sesuatu yang nggak ada gunanya, termasuk akal kita, jadi kita harus manfaatin akal kita itu dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan nggak nyontek atau dengan ngasih contekan ke orang lain. Kalo kita ngasih contekan ke orang lain, sama halnya kita mendukung dia untuk tidak memanfaatkan akalnya. 

Percayalah sama kekuatan Tuhan, Allah sudah berfirman bahwa Dia takkan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri. Ini berlaku juga buat kaum pencontek, kalo mau nilai bagus, tentunya itu harus dari usaha sendiri. Jangan menyia-nyiakan anugerah dari Allah, kita punya akal, kita hanya butuh berusaha, berdoa, dan selanjutnya kita serahkan kepada Allah, tawakal.. :D

Masih berpikir untuk menyontek dan memberi contekan?


4. Nyesel
Menurut penelitianku pribadi, nyontek dan ngasih contekan juga bisa bikin nyesel juga lo.. Ya, sebagai contoh.

"Ihh, ternyata jawaban yang dikasih temen ane tadi salah, coba jawaban ane tadi nggak ane ganti." Dan menyesal ~


"Sebel gue! Masa yang gue contekin nilainya lebih bagus. Padahal yang belajar gue!" Dan menyesal ~


"Nyesel aku udah nyontekin dia, ternyata dia ngumpulin jawaban temennya, jawaban yang paling banyak yang dia tulis. Emangnya pemilu, voting segala -___- mana nilainya paling bagus." Dan menyesal ~


"Duh, malu gue.. Andai aja tadi gue nggak kasih contekan ke temen, gue nggak mungkin sampe ketahuan guru dan dimarahin kek gini." Dan menyesal ~


Udahlah, nggak usah pada nyontek.. Usaha keras nggak akan mengkhianati kok :)) (tapi bukan usaha keras buat nyontek lo ya -_________- )

Masih berpikir untuk menyontek dan memberi contekan?


5. Menciptakan pribadi yang nggak mandiri, alias cuma bisa bergantung ke orang lain
Parah nih.. Ini terutama buat yang suka ngasih contekkan ke temen. Kebiasaan menyontek itu bikin anak semakin tergantung sama orang lain, karena dia udah kebiasaan dibantu dan dapet jawaban instan dari temen. Nah, yang kayak gini juga mempengaruhi mentalnya, dia suatu saat bakal lemah mental di luar sekolah karena dia nggak bisa mandiri dan nggak bisa jadi problem solver untuk masalahnya sendiri.Tentu saja dia bakal kesulitan kalo nggak bisa mandiri. Apa kalian tega membentuk manusia-manusia seperti ini?? Yang cuma bisa bergantung ke orang lain?

Bahasa jawanya tuh "Gampang njagakne wong" 

Gimana? Masih berpikir untuk menyontek dan ngasih contekan?


6.  Nilai bagus dari nyontek nggak akan bisa dipertanggungjawabkan

Singkat saja, coba banyangin, suatu saat ada anak yang kesehariannya nggak terlalu pinter, dia cuma bisa nyontek waktu ulangan, dan temennya pun mau ngasih contekan. Terus, suatu hari karena bu guru jadi kagum/justru curiga dia ngetes anak itu soal yang sama persis di ulangan, anak itu emang inget jawabannya tapi dia nggak bisa ngerjain ulang dengan cara-cara yang lengkap. Kalo kalian jadi kayak gitu.. malu nggak?


Masih berpikir untuk menyontek dan memberi contekan?

Nyontek hanya ngasih kita manfaat jangka pendek, tapi nyontek ngasih kita kerugian jangka panjang.



Menyadari bahwa nyontek dan memberi contekan adalah hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain, kita harus ngelakuin sesuatu buat merubah budaya yang kayak gini. Sulit, memang sulit.. Karena pada kenyataannya upaya pembasmian budaya menyontek itu harus didukung semua pihak, mulai dari anak itu sendiri, guru, warga sekolah, bahkan orang tua. Kenapa? Karena, dari banyaknya kasus masih ada pihak-pihak yang memberi kesempatan anak untuk menyontek, dan ini jelas salah kaprah.

Waktu ulangan di kelas misalnya, masih banyak kok guru berkata "Anak-anak jangan rame. Nyontek boleh, tapi jangan berisik," seperti inikah harusnya seorang guru? Bukankah guna seorang pengawas ulangan adalah menegur anak yang nyontek? Atau bahkan mencegah anak untuk menyontek?

Kalo ulangan boleh menyontek, tak perlulah ada pengawas di kelas, tak perlulah pemerintah membayar mahal-mahal untuk honor pengawas ~

Sia-sia.. Bener-bener sia-sia.

Temen-temen, pembaca, bapak, atau ibu sekalian, sekarang waktunya sadar. Nyontek itu bukan jawaban untuk dapat nilai bagus. Nilai boleh bagus, tapi kalo hasil nyontek apa artinya? Nggak bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, dan nggak valid. Nilai sekolah bagus tapi nilai moral dan kepribadiannya hancur, apalah artinya?

Mulai sekarang, be true to yourself, be true to others. Sadari kekurangan, perbaiki kekurangan - bukan menutupi kekurangan - 
Mulai sekarang, belajarlah untuk ilmu, bukan untuk nilai. Saat kita belajar untuk ilmu, pasti yang lain kita akan dapat. Tapi, jika kita belajar untuk nilai, kita cuma akan dapat nilai saja.

Coba merenung sedikit..

Alangkah senangnya saat kita dapat nilai bagus dengan keringat sendiri.
Kita juga tak akan dikecewakan orang lain jika nilai kita kurang baik.

dan satu lagi. Ini adalah kata-kata yang selama ini aku jadiin semangat biar nggak nyontek "Orang tua kita tuh udah berusaha banting tulang supaya kita bisa sekolah dan jadi anak yang berguna. Mereka kerja keras buat cari uang halal buat kita, lalu apakah kita akan memberi mereka nilai sekolah yang bukan dari usaha kita sendiri? Padahal mereka sudah percaya sama kita."

Jadi, apakah kalian masih berpikir untuk menyontek dan ngasih contekan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENZIM | TANYA DAN JAWAB

Culinary Review: The Solchic Solo, Chicken Package Easy Wings

Contoh Resensi Antologi Cerpen (Buku Fiksi)